04 February 2013

Racauan Arsitektur Jakarta

Bahasa yang umum kita gunakan adalah secara lisan dan tulisan, artinya menggunakan tanda-tanda bunyi dan bentuk, untuk mengekspresikan dan mengkomunikasikan maksud, pikiran, dan emosi. Walaupun bentuk dan variasinya sangat beraneka ragam, tetapi sesungguhnya struktur utama dari bahasa yang digunakan oleh manusia masih sama saja.

Di setiap bahasa manusia kita mengenal setidaknya kata benda, kata kerja, dan kata sifat. Intonasi yang digunakan untuk mengkomunikasikan emosi dan perasaan hampir bisa dikatakan bersifat universal; tanpa mengerti bahasa yang digunakan, seringkali kita bisa membedakan antara bentakan, pertanyaan, perintah, ekspresi rasa takut, dan - tentu saja - ekspresi rasa nikmat.

Sebuah bahasa adalah suatu sistem tanda-tanda bunyi dan bentuk yang spesifik yang dipergunakan untuk "mewakili" kenyataan yang lainnya.


Buatlah sebuah bentuk lingkaran, tempatkan sepotong garis tegak lurus dengan tinggi yang sama di sebelahnya, kemudian tambahkan dua buah garis diagonal ke atas dan ke bawah yang berujung di bagian tengah dari garis tegak lurus. Kenyataan, alam materi, dunia fisik, yang baru saja dibuat bukanlah lagi merupakan "bentuk lingkaran dan tiga buah garis di sebelahnya", melainkan sepotong OK, yang kini telah "mewakili" kenyataan yang lainnya.

Suatu sistem bahasa menjadi begitu mudah dimengerti secara universal (oleh lokalnya masing-masing) karena tanda-tanda tersebut dibakukan dan dipergunakan secara rutin dan ekstensif.

Selain sistem bahasa yang menggunakan tanda-tanda bunyi dan bentuk, manusia (dan makhluk-makhluk lainnya) menggunakan pula sistem bahasa yang lainnya. Singa dan anjing menggunakan air seninya untuk "mengkomunikasikan" teritorialnya, sementara kucing menggunakan postur tubuh tertentu untuk "mengkomunikasikan" penerimaan atau penolakan.

Pilihan busana seseorang adalah upaya untuk mengkomunikasikan jati dirinya, apakah itu kemeja necis ala pekerja kantoran, jaket kulit, kaos oblong, atau yang lebih jelas lagi - misalnya - baju koko dan jilbab. Dalam sebuah meja rapat, yang memiliki posisi paling tinggi akan cenderung menempatkan diri (dan ditempatkan) pada posisi ujung, tanpa orang lain yang sejajar dengan dirinya. Pemposisian kursi - artinya pemposisian letak manusianya - dalam suatu pertemuan bilateral dua pemimpin negara yang setara jelas akan berbeda dengan pemposisian letak manusia ketika seorang biasa bertemu dengan seorang kaisar.

Dan pada umumnya perempuan akan mengarahkan mukanya ke arah yang lain untuk "mengkomunikasikan" ketidakmauannya untuk berbicara ketika sedang marah.

Secara sadar atau tidak sadar, setiap gerak-gerik, setiap pemposisian tubuh, setiap pemposisian dan susunan benda-benda, setiap bentuk yang dihasilkan oleh manusia, mengandungi juga suatu upaya untuk "mengkomunikasikan" sesuatu.

Maka selain dari tanda-tanda bunyi dan bentuk baku yang dikenal oleh manusia sebagai "tulisan", apa-apa yang telah disentuh, dipindahkan, disusun, dan dibuat oleh manusia pun - secara sengaja atau tidak sengaja - memiliki suatu statement yang ingin dikomunikasikan.

Artinya, seperti ditulis oleh Bryan Lawson dalam The Language of Space, kita dapat juga melihat ruang arsitektur sebagai suatu bahasa, sebagai konsekuensi keberadaan dirinya sendiri yang merupakan hasil akibat dari perbuatan, bentukan, atau modifikasi oleh manusia.

Seperti juga bahasa lisan dan tulisan, yang paling mudah untuk diterjemahkan tentu saja adalah bahasa yang dipergunakan secara baku, secara rutin, secara ekstensif. Dalam hal arsitektur, yang memiliki parameter seperti tersebut di atas adalah arsitektur tradisional, karena ia mengikuti suatu norma dan kaidah yang hampir-hampir baku, karena ia (di masa lalu) digunakan secara ekstensif dan rutin.

Dalam sistem arsitektur tradisional, jika kita sedikit saja mencoba untuk mempelajari "bahasa" yang disampaikannya, akan cukup mudah untuk "menterjemahkan" statement-statement yang membedakan bangunan rumah tinggal, sarana peribadatan, kepala suku, orang terpandang, ruang komunal, lumbung, bangunan untuk militer, dan sebagainya. Bahkan bangunan tradisional di Cina secara eksplisit menyampaikan derajat dari penghuninya melalui jumlah patung yang ditempelkan di ujung atapnya.

Berbeda dengan arsitektur tradisional, arsitektur modern bisa dikatakan telah meninggalkan norma dan kaidah yang baku dalam penyampaian statement. Tidak ada lagi keharusan yang benar-benar harus selain daripada hal-hal keselamatan dan fungsional. Hal ini bagaikan setiap karya arsitektur bergumam dalam bahasanya masing-masing dan menggunakan sistem yang berbeda-beda.

Tetapi seperti telah disebutkan di awal tadi, bagaimanapun juga sistem mendasar dari setiap bahasa masih sama. Maka - sebagai suatu studi kasus - mari kita berusaha untuk mencermati, apa kira-kira yang hendak disampaikan oleh kumpulan karya arsitektur di Ibukota tercinta, Jakarta.

***

Ada banyak karya arsitektur di Jakarta yang sangat menarik untuk didengarkan ceritanya, dinikmati harmoni paduan suaranya, dan dihayati statement yang tengah mereka sampaikan.

Mulai dari salah satu karya arsitektur yang mungkin sampai hari ini masih menjadi yang paling indah di Jakarta ini, Masjid Istiqlal, alias Masjid "Merdeka", kompleks gedung-gedung pencakar langit dengan gaya modernisme yang kental di jalan Jenderal Sudirman, gedung Bank Indonesia yang jangkung namun tropis, gedung Wisma Hayam Wuruk dengan arsitektur brutalisme-nya yang gagah, Mall Ciputra di sudut perempatan Grogol yang megah, hingga monumen-monumen dan tugu yang bertebaran di Jakarta (walaupun menurutku yang terakhir itu masih kurang jumlahnya), dan lain-lain.

Mungkin ada statement tentang nasionalisme dan semangat tropis di sana, atau kemajuan zaman, atau malah konsumerisme, bisa pula suatu "obrolan" tanggap-menanggapi antara jalanan dengan gedung dan ruang terbuka di sekitarnya. Di lain tempat ada keramah-tamahan penyambutan, formalitas, atau bahkan mungkin statement tentang kekuasaan.

Walaupun demikian saya hendak mengajak pembaca untuk sekilas mendengarkan nyanyian dari "jenis" karya arsitektur yang lain lagi, saya ingin mengajak pembaca untuk mendengarkan apa kira-kira yang sedang disampaikan oleh karya-karya arsitektur kontemporer di Jakarta, tepatnya adalah yang (pada umumnya, tapi tidak selalu) dinyanyikan oleh para developer-developer yang terhormat.

Dengan mudah akan kita temukan suatu karya arsitektur (yang mengklaim memiliki gaya) Mediterania, Klasik, Romawi, dan lain-lain sejenisnya, di dalam kota Jakarta ini, di suatu tempat yang hampir tidak ada sangkut-pautnya sama sekali dengan gaya atau tempat-tempat tersebut di atas.

Istana negara masih bisa dimaklumi, karena Belanda-lah yang mengerjakannya, dan bahkan gedung Mahkamah Konstitusi dengan kolom-kolom bergaya Doric-nya pun masih bisa dimengerti kontekstualnya - bahwa Indonesia adalah negara beradab yang telah mengadopsi sistem negara, hukum, dan perwakilan modern yang dirintis dari Yunani sana.

Tetapi jika ada sekomplotan ruko, "rumah toko", yang digunakan untuk bengkel motor, rumah makan Padang, hingga toko kasur; berdiri megah menjulang dua belas meter dengan gaya Klasik, apa yang hendak disampaikannya mungkin adalah tentang dilusi kepribadian. Ia menyampaikan pesan-pesan yang semestinya disampaikan berabad-abad lampau, di tempat yang jauhnya puluhan ribu kilometer dari Jakarta. Bagaikan seseorang yang sedang meributkan bahwa Zeus meminta persembahan supaya langit tidak runtuh ke muka bumi, tepat di tengah Jakarta, tepat di awal tahun dua ribu tiga belas ini. Apa yang diracaukan oleh sekelompok ruko ini jelas tidak kontekstual dengan waktu dan tempatnya.

Di tempat yang lain lagi, di sebuah kompleks perumahan yang terdiri dari cluster-cluster dengan nama yang - lagi-lagi - berasal dari daratan Eropa sana, akan kita temukan monumen-monumen hampir di setiap ujung jalannya. Ada yang berbentuk benteng nan megah, ada pula yang berbentuk bangunan gereja Gothic, ada lagi yang berbentuk kastil.

Keberadaan monumen-monumen ini, selain tentu saja mereka mengidap dilusi yang kronik, mungkin sebentuk ketidaksudian untuk mengalami anti-klimaks. Setiap belokan harus berarti klimaks, setiap ujung jalan harus megah, dan setiap putaran harus gegap gempita. Monumen-monumen ini, bersama-sama dengan ruko-ruko yang sedang meracau, dengan jalan-jalannya, sepertinya sedang terjangkiti oleh megalomania massal.

Tetapi megalomania monumen-monumen tersebut belum seberapa jika dibandingkan dengan sebuah gerbang. Ada sederetan obor-obor palsu di sepanjang kanan-kiri jalan yang berdiri tegak menghardik langit, dengan lighting yang angker, dengan postur yang monumental.

Ia bukan saja megalomania, gerbang ini mengalami disorientasi yang parah. Akan menggetarkan hati jika di balik gerbang tersebut akan kita temukan sederetan artileri dengan moncong menghadap langit di sepanjang seratus meter jalanan. Atau jika di balik gerbang tersebut kita temukan lapangan Monumen Nasional. Atau kompleks Istana Kepresidenan. Tetapi ia bukanlah gerbang sebuah kompleks militer, bukan pula gerbang untuk memasukki sebuah public space yang besar, bukan kompleks kenegaraan, bukan pelabuhan. Bukan. Ia adalah gerbang utama untuk memasukki sebuah kompleks perumahan yang lain lagi. Gerbang tersebut jelas sedang berteriak-teriak dengan gagahnya, mengaum-aum bagai singa, bagaikan Don Quixote.

Dilusi, megalomania, dan disorientasi; hal semacam itu juga akan kita temukan pada rumah-rumah megah nan mewah di daerah-daerah tertentu di Jakarta. Kemegahan bagian mukanya ditopang oleh dua atau lebih pilar-pilar bergaya Corinthian. Pintu utamanya melambung tiga meter tingginya, berada di puncak enam belas anak tangga yang terbuat dari marmer putih. Yang gila, kemegahan tempat tinggal "rakyat jelata" ini hampir tidak menyisakan sedikitpun jarak pandang yang layak, ia hanya berdiri lima hingga enam meter dari tepi jalan. Seperti seorang anak kecil yang luar biasa ngotot bahwa ia sudah besar dan sanggup bertarung melawan Bruce Lee.

Jika kita kembali ke dalam kompleks perumahan dengan obor-obor penghardik langit tadi dan masuk ke dalam salah satu clusternya, maka akan kita dapati rumah-rumah dengan arsitektur (yang di-klaim sebagai) minimalis. Ada garis-garis horizontal di mukanya. Ada jendela persegi dengan plat beton mini yang disungging di atasnya. Mungkin ia tengah berusaha untuk menyatakan modernisme, muda, dan dinamisme. Terlepas dari apakah yang demikian itu adalah minimalisme, terlepas dari apakah memang demikian yang sedang dinyanyikan, tetapi itulah yang hendak ia katakan, dan memang betul sebagian besar penghuninya adalah keluarga muda yang baru saja memiliki rumah pertamanya.

Tetapi jika kita sapukan pemandangan ke sekelilingnya, seketika itu pula kita akan melihat: Seluruh rumah di cluster tersebut, setiap biji bangunan yang ada di sana, semuanya memiliki bentuk yang persis sama hingga ke bentuk yang paling anehnya. Seperti tengah membaca sebuah buku yang hanya berisi "lalalalalalala-lalalalalalala-lalalalalalala-lalala..."

Demikianlah sekilas perjalanan kita mengunjungi beberapa jenis karya arsitektur yang tengah bernyanyi dan bahkan berteriak-teriak dengan lantang. Entah apa yang mereka nyanyikan, entah apa statement yang mereka buat, tetapi yang sekilas terbaca adalah nada-nada yang asing, statement-statement yang kacau balau amburadul berantakan, tidak nyambung, tidak dapat dimengerti, aneh luar biasa.

***

Sedikit catatan:
Kita harus mengerti, bahwa dalam hal racauan karya-karya arsitektur kontemporer milik para developer dan yang sejenis dengannya, adalah merupakan hasil kesetimbangan antara keinginan pasar dengan "trend masa kini" yang disuntikkan oleh sang developer sendiri. Kita tidak bisa serta-merta begitu saja mempersalahkan para developer yang terhormat jika ternyata masyarakat lebih berselera terhadap karya-karya arsitektur yang sedang meracau tak tentu arah.

No comments:

Post a Comment

Popular Nonsensical Matters