10 August 2014

Ruang Sebagai Peristiwa Ekonomi Politik - Bagian Satu

Bagian Satu

Segalanya mengada dan terjadi di dalam ruang.
Segala yang mengada dan terjadi mendefinisikan ruang.
Ruang adalah konstruksi dari proses mengada.

***

Setiap bagian kecil dari batuan, tanah, air, udara, dan segala benda-benda mati yang membentuk bentang alam mengada dan berdiam, bergerak, atau berubah semata-mata dalam kerangka hukum-hukum fisika. Energi dan gaya yang dikenakan kepadanya akan mengubah kondisinya, mengubah kondisi yang mengenainya, untuk saling diteruskan kepada yang lainnya, termasuk juga akibat dari perubahan kondisi tersebut, saling berantai dan bergantung tanpa henti. Sejauh menyangkut alam raya benda-benda mati, maka reaksi yang terjadi akibat aksi adalah sejernih-jernihnya hukum fisika belaka.

Lalu benda-benda hijau dan makhluk-makhluk bergerak itu muncul: Tumbuhan dan hewan.

Tumbuhan dan hewan tentu saja terikat secara absolut oleh hukum-hukum fisika, saling dipengaruhi dan mempengaruhi oleh lingkungannya dan oleh satu sama lain. Energi dan gaya mempengaruhi tubuh fisik mereka seperti alam benda mati lainnya.

Tetapi berbeda dengan batu yang berbenturan dengan batu atau segala aksi-reaksi benda-benda mati, tanaman bertumbuh menentang gravitasi dan hewan-hewan tampak bergerak melampaui kodratnya sebagai benda fisik belaka. Dalam dunia makhluk hidup ini gerak aksi-reaksi melompat tidak pada jalurnya, hukum fisika seakan dilangkahi, gerak dan diam mereka tidak melulu tentang energi dan gaya yang diterima, mereka memiliki gerak dan diamnya sendiri, mereka memiliki energinya sendiri, dan menghasilkan gayanya sendiri.

Semua itu akibat dari kejadian-kejadian yang tak begitu saja bisa terlihat oleh mata para penghuni permukaan bumi, yaitu proses-proses kimia, yang sejatinya adalah proses fisika dalam level partikel, yang terjadi di dalam tubuh fisik mereka: Di dalam batang kayu pepohonan, di sekujur dedaunannya, di dalam otak hewan, di sepanjang tulang belakangnya, di jaringan syaraf dan otot-ototnya.

Apa yang terjadi di dalam tubuh makhluk-makhluk tersebut dan kemudian terwujud dalam diam-gerak tubuh fisik mereka ditunjang oleh proses metabolisme, yaitu memasukkan berbagai sumber daya yang dibutuhkan dari luar ke dalam tubuh mereka, mengolah dan mengubahnya menjadi energi, dan mempergunakannya untuk menghasilkan gaya, bergerak.

Bagian terpentingnya adalah bahwa makhluk-makhluk tersebut tidak boleh dan tidak dapat berhenti untuk melakukan proses metabolisme selama masih memungkinkan, karena ketika mereka berhenti, cepat atau lambat mereka akan berubah menjadi benda fisik yang tidak lagi memiliki energi dan gayanya sendiri, kembali seperti batu dan tanah, dikuasai hukum-hukum fisika permukaan bumi: Mati.

Sumber daya yang dibutuhkan oleh makhluk-makhluk tersebut seringkali hadir dalam jumlah yang berlimpah ruah atau bahkan bisa dianggap tak berhingga, tetapi keberadaannya tersebar luas di ruang yang besar sekali, sehingga secara lokal tampak sangat terbatas jumlahnya. Keterbatasan sumber daya inilah yang kemudian menjadi asal muasal dari relasi ekonomi, dari yang terkecil dan primitif seperti yang dimiliki semut, hingga peradaban manusia yang termegah.

Ketika ada dua atau lebih makhluk yang memiliki kebutuhan sumber daya yang sama dan berada di area lokasi yang sama, dengan sumber daya yang terbatas secara subjektif, di sanalah relasi ekonomi terlahir. Sederhananya, cepat atau lambat akan ada perbenturan kepentingan antara individu yang satu dengan individu yang lainnya. Walaupun sumber daya tersebut masih tak berhingga banyaknya, posisi-posisi yang strategis, keberlimpahan serta kualitas yang lebih baik di suatu tempat dan kelangkaan di tempat yang lain, kemudahan untuk didapatkan, dan berbagai parameter yang lain akan mendorong terjadinya persinggungan.

Bahkan yang sebenarnya terjadi adalah seperti apa yang kita pelajari sejak SD, yaitu ketika di antara makhluk-makhluk tersebut terjadi saling memper-sumber-daya-kan antara yang satu dengan yang lainnya. Kasarnya, individu-individu tersebut saling memakan satu dengan yang lainnya, sehingga tercipta urut-urutan saling makan-memakan yang khas: Rantai makanan.

Relasi ekonomi ini akan semakin kompleks ketika masing-masing jenis makhluk, kita sebut saja kelompok, terdiri dari banyak individu. Pertama-tama antar kelompok akan saling bersaing-saingan untuk mendapatkan sumber daya yang terbanyak dan terbaik serta saling memakan satu dengan yang lainnya. Kedua, di dalam masing-masing kelompok itu sendiri akan terjadi persaingan di antara anggotanya untuk mendapatkan yang terbaik, mendapatkan yang terbanyak, menjadi yang paling selamat, dan menjadi yang terunggul.

Dalam relasi ekonomi primitif tersebut, selain akan kita temukan persaingan dan konflik kepentingan, juga sebenarnya bisa kita temukan pula eksploitasi antara yang satu terhadap yang lainnya, baik antar individu, antar kelompok, maupun kelompok di dalam kelompok; bahkan ada pula bentuk-bentuk kerjasama yang sederhana baik disengaja maupun tidak, yang kesemuanya kemudian kita golong-golongkan ke dalam ketiga bentuk simbiosis; mutualisme, komensalisme, parasitisme.

Ketika relasi ekonomi tersebut bergulir ke tingkatan yang lebih kompleks lagi, ia tidak hanya menyangkut 'lidah ini ingin makan apa'. Ia akan mencakupi juga permasalahan masa depan yang cukup jauh, ketersediaan makanan yang lebih berlimpah dan lezat; artinya teritorialitas, potensi alam, keamanan dari pemangsa; demi menjamin kelestarian kelompok, dominasi internal kelompok, pemuasan hasrat menghasilkan keturunan, keterjaminan keturunan, dan lain-lain. Perlahan-lahan, secara sangat sederhana, secara sangat primitif, relasi ekonomi tersebut mulai membentuk relasi sosial yang lebih utuh melalui terciptanya kesepakatan dan kerja bersama, pemimpin, kasta, persaingan, pertentangan, klan, kelompok, dan berbagai rupa dan model perebutan akan masa depan yang lebih baik bagi individu sekaligus bagi kelompok.

***

Karena makhluk-makhluk tersebut hidup, beraktivitas, dan membangun relasi-relasi sosial-ekonomi mereka di dalam dan berinteraksi dengan ruang, maka terjadi gerak dialektis saling mempengaruhi yang sangat rumit di sana. Kondisi objektif ruang mempengaruhi individu, kelompok, serta perilaku dan relasi para penghuninya; yang saling mempengaruhi satu sama lain; dan kemudian berbalik mempengaruhi persepsi subjektif mereka tentang ruang tempat hidupnya; atau bahkan tidak jarang ruang tersebut termodifikasi secara fisik akibat aktivitas dan perilaku penghuninya; yang tentu saja akan kembali mempengaruhi para penghuninya; demikian seterusnya.

Pada dasarnya "konstelasi ruang" bagi sekelompok singa (pride) selalu berubah seiring setiap air kencing yang mereka siramkan di sini dan di sana serta auman-auman keras singa jantan sepanjang malam hingga pagi. Itu semua dalam rangka menandai teritori kekuasaan mereka, ruang kedaulatan mereka, kepentingan ekonomi mereka; yang bisa saja meluas dengan tiba-tiba ketika beberapa ekor singa jantan pengembara bergabung dengan kelompok tersebut dan menambah wilayah cakupan air kencing dan auman tengah malam.

Dan sekawanan gajah memiliki lokasi tertentu, satu lokasi di dalam ruang tempat mereka berada pada saat tertentu, yang secara sosial mereka sepakati sebagai tempat untuk membuang hajat, yang artinya juga secara ekonomis, karena pemisahan antara tempat makan dan tempat membuang hajat adalah salah satu cara untuk menjaga kesehatan kawanan tersebut. Persepsi ruang bagi mereka telah berubah, melalui kesepakatan dibuat menjadi sesuai dengan aktivitas para gajah, bahwa selain dari ruang yang telah disepakati tadi, adalah ruang untuk mencari makan dan berkubang, sehingga haram hukumnya untuk membuang hajat.

Lalu burung-burung dan berang-berang dengan cukup serius mempertegas konsep ruang dalam relasi sosial dengan cara memodifikasi dan menciptakan ruang tempat hidup mereka secara fisik, sebagai teritori kelompok maupun individu, menggunakan batasan-batasan yang jelas yang dibangun menggunakan rerumputan dan batang-batang kayu.

Lebah membangun dan menjaga sarangnya dengan lebih terelaborasi lagi, menciptakan sistem, mengatur tata-ruang, dan membentenginya secara fisik. Semut bahkan bekerjasama membangun kotanya sendiri, dengan kesepakatan-kesepakatan menyangkut lokasi menyimpan makanan, telur, jalur sirkulasi, dan tempat kediaman ratunya. Semut jenis pemotong daun (leafcutter ants) membawa masuk potongan-potongan daun ke dalam kotanya untuk menumbuhkan jamur sebagai bahan makanan untuk larva-larva mereka.

Seperti massa yang besar membelokkan ruang dan waktu; aktivitas, interaksi, dan relasi sosial "membelokkan" persepsi penghuninya akan ruang tempat mereka berada.

***

Kemudian datanglah makhluk yang berjalan tegak menggunakan kedua tungkainya; Homo sapiens sapiens.

Pada dasarnya manusia masih memiliki pola yang sama dengan makhluk-makhluk yang telah dibahas sebelumnya. Manusia mengkonsumsi sumber daya, beraktivitas, berinteraksi, berkelompok, dan membangun relasi sosial-ekonominya, yang pada gilirannya akan mempengaruhi ruang tempat hidupnya secara subjektif maupun objektif. Dengan satu saja perbedaan, yaitu bahwa apa yang dilakukan oleh manusia telah jauh, jauh sekali melampaui segala kehidupan yang pernah ada di muka bumi ini.

Otak adalah yang menjadi salah satu biang keladi utamanya. Otak gajah memang lebih besar daripada otak manusia, tetapi otak manusia memiliki volume yang paling besar jika dibandingkan dengan ukuran tubuhnya. Hasilnya adalah kecerdasan yang membumbung tinggi jauh melampaui semua makhluk lainnya yang pernah ada di muka bumi ini.

Dari kecerdasan tinggi tersebut maka manusia mulai dapat mempergunakan alat, memulai penemuan-penemuan primitif, dan membaca alam dengan lebih baik untuk menunjang tindak-tanduknya; dari kapak batu hingga tombak, palu primitif hingga panah, memicu api dan membuat pelapis tambahan untuk tubuh tak berbulunya, menemukan roda, membaca bintang, dan tinggal secara berkelompok.

Hal lain yang timbul secara bersamaan dengan kemampuan teknis dan cara hidup yang berkelompok, dalam gerak dialektis sebagai sebab sekaligus sebagai akibat, adalah bahasa dan kerja sama, kolaborasi dan koordinasi.

Manusia mulai mengabstraksi diri dan benda-benda di sekitarnya, memisahkan serta memilah-milah individu dari lingkungannya, serta menciptakan variabel-variabel untuk diri, benda, dan lingkungannya. Mereka menjadi makhluk dengan kemampuan kognitif yang superior, sadar akan eksistensi dirinya sendiri di tengah-tengah lingkungannya dan makhluk-makhluk di sekitarnya - self-conscious.

Kemudian dari dunia fisik yang diwakili kata-benda mereka bergerak mempertajam persepsinya tentang ruang, diri serta objek-objek di dalamnya, dan juga waktu; melalui dunia abstrak berbentuk kata-kerja, kata-sifat, dan kata-keterangan. Dunia diinternalisasikan ke dalam otak secara semakin dan semakin utuh; ruangnya, objek-objeknya, lokasinya, keadaannya, pergerakannya, dan waktunya.

Pada gilirannya, kemampuan Homo sapiens untuk mengabstraksikan dunia di dalam kepalanya tersebut bersahut-sahutan dengan kecenderungan mereka untuk bekerjasama. Semakin mereka intens bekerjasama, semakin berkembang kekayaan bahasa yang mereka miliki dan semakin kaya bahasa yang dimiliki, semakin baik pula kerjasama mereka.

Tidak terbatas sampai di sana, gerak dialektis tersebut pun merambah ke seluruh hal-hal lainnya: Mereka bekerjasama dan memiliki sistem bahasa yang cukup memadai untuk mengakomodasi kerja-kerja yang lebih kompleks, maka semakin canggih pula teknik dan penemuan primitif yang bisa dihasilkan; setiap teknik dan penemuan primitif baru yang ditemukan kemudian berbalik memperkaya keseluruhan kehidupan mereka, melalui nutrisi yang lebih baik, lebih aman, dan lebih banyak dari kemajuan kemampuan berburu, melalui tingkat keselamatan yang lebih, melalui kemampuan mengabstraksi dan mengkoordinasi rencana, gagasan, serta tujuan, melalui kemampuan mereka untuk menghindarkan diri dan kelompoknya dari musibah, melalui kemampuan mereka untuk memodifikasi bumi tempatnya berada.

Demikian seterusnya berbagai hal material saling mempengaruhi dan mendorong peradaban manusia meroket naik tanpa henti: seraya mentransformasi relasi sosial-ekonomi antara manusia dengan manusia serta manusia dengan alam pada setiap tahapannya. Relasi sosial-ekonomi tersebut tercermin sejak kapak batu pertama yang diciptakan, penemuan api, lukisan goa, perburuan dan pengumpul purba, hingga dimulainya pertanian dan peternakan primitif dengan hasil surplusnya yang meledakkan kebudayaan manusia. Kebudayaan patriarkal, perbudakan kuno, penciptaan Tuhan dan agama-agamanya, munculnya penguasa-penguasa kecil, pembagian pekerjaan, pembentukkan militer, lahirnya land-lord, raja-raja, sistem manufaktur modern, korporasi, mesin-mesin industri super-canggih, kerjasama yang epik, sistem pemerintahan modern, penciptaan modal bersama, hingga sistem komputasi-komunikasi maha-kompleks yang mempersempit dunia di abad ini.

Relasi sosial-ekonomi, juga moda produksi, sebagai pondasi dari perkembangan peradaban ini dijabarkan secara lebih jauh mendalam dan tajam oleh Karl Marx dan Friedrich Engels dalam karya-karyanya.

***

Homo sapiens sapiens dengan relasi sosial-ekonomi dan kekuatan produksinya yang maha-kolosal tentu saja meninggalkan tanda yang sangat membekas di ruang tempat hidupnya.

Untuk menunjang kehidupannya, manusia mengolah dan memodifikasi alam, menciptakan ruang-ruang secara detail dan terelaborasi, dengan fungsionalitas yang tajam dan berlapis-lapis. Berbeda dengan semua makhluk lainnya, manusia melakukannya dengan rencana, tidak secara impulsif dan instinktif. Tidak berhenti sampai di sana, manusia membangun dalam ukuran yang gigantis, manusia membangun tidak hanya untuk fungsi-fungsi tidur-makan-hajat, manusia membangun melampaui waktu - menyediakan objek-objek yang kegunaannya tidak secara langsung di waktu sekarang.

Di sanalah terutama berceceran jejak-jejak relasi sosial-ekonomi yang mereka hidupi.

***

Akan dilanjutkan di Bagian Dua.

No comments:

Post a Comment

Popular Nonsensical Matters