07 February 2016

Pengemis Dan Penikmat Patung

18 Agustus 2006

Kau berjalan menghampiri orang itu. Seorang laki-laki yang terlalu tua untuk disebut muda, mungkin umurnya sudah lewat dari lima puluh tahun, bahkan mungkin kau menebaknya enam puluh.

***

Ia sedang berdiri sendirian hampir di tengah lapangan yang kini sedang kau lintasi, membuat potongan berbentuk sedikit diagonal, tepat menuju orang itu. Pandanganmu pun tertuju padanya, walaupun tidak sungguh-sungguh tepat padanya, bukan sebuah pandangan yang tajam. Laki-laki itu mengenakan kemeja batik berlengan panjang dan celana panjang bahan, berdiri tegak sambil berpangku tangan. Badan dan mukanya menghadap ke arah tengah lapangan, di mana berdiri seonggok patung di sana

Di belakangmu adalah toko-toko, cindera mata dan makanan dan lainnya. Di depannya ada empat meja dengan payung di atasnya, beberapa tengah digunakan untuk duduk-duduk dan mengobrol. Turis.

Ramai hari ini. Akhir minggu memang selalu cukup ramai, tetapi hari ini agak berbeda karena sedang ada acara sesuatu entah apa di dalam sana. Orang-orang berdatangan sejak pagi dan saat ini pun belum berhenti. Terakhir kau lihat, jarum jam di dalam toko makanan di pojok sana telah melewati angka sebelas. Perlahan-lahan matahari mulai merayap ke angkasa, memelototi bumi dengan garang, hingga nanti tengah hari ia menjilati permukaan lapangan ini dengan lidah-lidah apinya. Bukan main panasnya.

Untung saja udara di sini cukup sejuk, sehingga walaupun sangat terik, tiupan angin tetap terasa dingin di kulit. Dan karena itu, seperti orang-orang yang berdatangan ke tempat ini, cukup bermodalkan payung atau topi, maka segalanya menjadi beres. Seperti serombongan orang yang baru saja lewat di hadapanmu, melintas rute yang akan kau lalui sekitar empat meter di depanmu. Mereka tampaknya sebuah keluarga, ayah dan ibu dengan dua orang anaknya, dan seperti yang telah dibahas sebelumnya, mereka membawa sepasang payung untuk melindungi kepala mereka dari sengatan matahari.

***

Sekarang tinggal lima langkah jarak antara kau dengan laki-laki yang tengah berdiri sendirian itu, kau berada di belakangnya dan agak serong ke samping kanan. Tanpa sadar kau perlambat langkah-langkahmu tetapi tetap menuju ke arahnya.

Rambutnya mulai beruban, seperti yang telah kau lihat dari jauh sebelumnya. Tetapi ternyata rambutnya lebih panjang dari yang sebelumnya kau kira. Justru ia cenderung gondrong. Ia mengenakan kacamata, dengan tali pengikat yang dikalungkan di lehernya. Lengan bajunya digulung sekitar dua lipatan, dan kini kedua tangannya telah berada di dalam masing-masing saku celana. Ia masih memperhatikan patung di tengah lapangan itu.

Kau telah semakin dekat, tetapi tampaknya orang itu tak memperhatikanmu sama sekali. Ia tetap diam. Bahkan cenderung terbengong-bengong walaupun rahangnya tidak terbuka sama sekali. Sepertinya ia sedikit tersenyum. Dan tetap diam.

Ketika kau hanya berada satu langkah darinya, kau mulai menyodorkan kedua tanganmu. Yang kanan di atas yang kiri, dengan telapaknya menghadap ke atas. Kau sedikit membungkukkan badanmu. Matamu tak terfokus jelas, melihat bergantian antara pangkal lenganmu, permukaan lapangan di bawahnya, badan laki-laki di depanmu, dan - sesekali dan hanya sekejap - mata orang itu.

"Pak. Belum makan Pak."

***

Akhirnya tiba-tiba ia sedikit memutar pinggangnya ke arahmu tanpa menggeser kaki. Ia masih tetap tersenyum. Kemudian dengan tiba-tiba juga, ia keluarkan tangan kanannya dari kantong dan membuat gerakan seakan-akan memintamu mendekat ke sampingnya. Setelah itu ia sekilas menundukkan kepala sambil berkata "Ah. Kemari. Kemari."

Bagaimanapun, kau anggap ia memang mengajakmu untuk mendekat ke sampingnya. Tetapi ia segera melihat lagi ke arah patung, badannya pun telah kembali menghadap ke muka, tangannya terlipat di depan dadanya lagi. Sementara tanganmu perlahan-lahan turun ke bawah di depan perutmu, yang kanan masih di atas yang kiri, dan tetap menengadah ke langit.

Kini kau berada benar-benar di sampingnya, kau menatap pundaknya, dadanya, dan sesekali kau gerakkan bola matamu melirik ke matanya yang tetap saja mengarah ke patung di depannya. Ia berdiri tegak, bahkan bagian atas badannya agak condong ke belakang, entah karena rasa puas atau rasa kagum.

Kau mulai merasa kebingungan apa maksud orang itu, tetapi setengah bergumam ia mulai bersuara. "Luar biasa, bukan?"

Sekilas ia menggeleng-gelengkan kepalanya dengan ringan, sambil tetap tersenyum. Kemudian mengangguk-angguk dengan ringan pula. "Luar biasa, kan?" Ia mengulangi lagi kata-katanya.

Maka perlahan-lahan kau pun memutar kepala, dan kemudian diikuti badanmu, hingga seluruhnya menghadap ke arah mana perhatiannya tertuju. Ada sebongkah patung di depanmu.

***

Sebuah patung berwarna hitam yang diletakkan di atas balok batu setinggi sekitar dua meter yang hitam juga. Bawahnya dikelilingi oleh kolam air yang berbentuk kotak, beberapa air mancur meluncur dari sisi-sisi kolam itu menuju ke balok batu tempat patung itu berdiri. Patung itu sendiri tingginya sekitar dua meter juga. Sebuah patung berbentuk sosok Gatot Kaca.

Berbeda dengan balok batu di bawahnya yang terkesan halus, patung itu adalah batu hitam yang justru sepertinya dikerjakan dengan agak kasar. Ia tampak sedang membuat kuda-kuda yang lebar, mukanya menatap lurus ke muka, satu tangannya tertekuk ke dalam, sementara yang lain dicondongkan ke depan.

Baik. Sebuah patung. Patung Gatot Kaca. Dari batu hitam yang dipahat tidak terlalu halus. Baik. Lalu kenapa? Memang bagus. Tapi apanya yang luar biasa?

***

Perlahan-lahan ia bergerak selangkah ke depan, tatapannya tak dilepaskannya dari sang Gatot Kaca, kemudian ia melangkah menyamping melintas di depanmu. Dengan perlahan-lahan. Setelah tiga langkah melewatimu ke samping kanan, ia berhenti. Tetap terbengong-bengong. Dan kau malah memperhatikan tingkahnya yang cukup aneh.

"Kau lihat pahatannya? Sungguh bertenaga! Potongan-potongan tegas yang membentuk setiap bagian tubuhnya. Lihat otot-ototnya. Ah! Mukanya! Luar biasa."

Kau perhatikan kembali patung itu. Tetapi tak ada apapun yang terjadi di dalam kepalamu. Tak ada pikiran apapun. Tak ada sepercik ide apapun yang muncul. Sebagai gantinya kau mendengar suara yang tidak asing di dalam perutmu. Suatu suara singkat grojokan. Dan kemudian terasa lapar. Sangat lapar.

***

"Tetapi bandingkan dengan pakaiannya! Lihat pahatan di celananya, dan di kain di pinggangnya, tutup kepalanya. Pahatan-pahatan itu! Ck ck ck..." Ia mengambil satu langkah lagi menjauh darimu, dan setelahnya kembali berkata, "luar biasa."

Baru saja kau hendak membalik badanmu untuk meninggalkannya, ia sudah menjulurkan tangan kirinya ke arahmu dan melangkah ke dekatmu. Ketika ia sudah sangat dekat, sekitar satu langkah, ia turunkan tangan kirinya dan mengangkat tangan kanannya, menunjuk ke arah patung itu dengan telapak tangan terbuka ke samping. Seluruh perhatiannya tetap tertuju pada Gatot Kaca.

"Pakaiannya dipahat dengan sangat-sangat halus! Motif batiknya begitu lembut, terlebih lagi ukiran di tutup kepala. Paling luar biasa kain yang menjulur di belakangnya itu, bagaikan benar-benar kain dan bukan batu!"

Perhatianmu tertuju kembali pada sang patung. Tetapi tanpa fokus sama sekali. Hanya matamu yang memandang ke sana, sementara pikiranmu kosong. Patung itu memang bagus. Tapi tak ada apapun yang sangat menarik darinya. Tak ada apapun yang membuat pikiranmu bergairah. Kau hanya termenung-menung menatapnya, bahkan sekilaspun tak terpikirkan olehmu, bahwa orang yang sekarang berdiri di samping kirimu ini - sang lelaki tua - belum juga memberi sekeping dua uang logam padamu.

"Ekspresinya itu yang tak ada matinya."

Ia letakkan tangan kanannya di dada sementara yang kiri mengusap-usap dagunya. Sekilas ia menengok ringan padamu, kemudian sekali lagi, untuk kemudian perhatiannya kembali tercurah penuh kepada sang patung.

"Ekspresi mukanya sangat keras." Kemudian seakan berbisik, "sangat keras!"

Tangan kirinya mulai terangkat terarah ke muka sang Gatot Kaca yang tengah memasang kuda-kuda sekitar tiga meter di depannya. Bergerak-gerak singkat bagaikan berusaha meresapi bentuk muka si Gatot Kaca, menirukan bentuknya, membuat gerakan-gerakan patah yang pendek.

"Pahatan-pahatan yang kaku dan tegas, menghasilkan bentuk muka yang sangat ekspresif. Matanya dalam dan tajam, rahangnya kuat, penuh keberanian. Sedikit bengis. Tetapi bijaksana. Tenang sekaligus buas. Ah! Sulit menggambarkannya!"

Perlahan tangan kanannya mulai dinaikkan juga, kali ini tangan-tangannya bergerak-gerak melebar.

"Tetapi memang secara keseluruhan patung ini luar biasa. Terlebih lagi dengan bukit-bukit yang ada di belakang sana itu. Bagaikan benar-benar telah diatur untuk menjadi latar buatnya. Pohon-pohon yang sedikit menutupinya membuatnya menjadi semakin berkesan jauh." Terdiam sesaat, "luar biasa."

Jauh di belakang patung itu memang ada pohon-pohon. Sementara di belakangnya lagi adalah perbukitan. Tetapi setelah kau melihatnya kau kembali menengok ke arah laki-laki itu. Ia masih saja terbengong-bengong terpesona.

"Karena itu tempat terbaik untuk memandang patung ini, adalah dari sini di depan mukanya tepat. Dan pada waktu tengah hari. Sinar matahari meneranginya tepat dari atas, membuat bayangan-bayangan yang semakin mempertegas kontur dan bentuk mukanya. Ya. Dari sini."

Ia lipat kembali tangannya di depan dada setelah sebelumnya sempat melihat arloji di tangan kirinya. Kau sedikit mendongakkan kepalamu ke atas, silau. Matahari sudah hampir berada tepat di atas kepala. Langit biru muda dibalut awan putih yang terang benderang di beberapa tempat. Sangat silau.

"Berarti sebentar lagi. Lihat saja."

Kau turunkan kembali kepalamu, melihat lagi ke arah patung. Ia menjadi lebih hitam lagi sekarang. Bayangan gelap yang muncul di penglihatanmu berpendar-pendar menutupi fokus pandanganmu.

***

"Sebenarnya bukan hanya dari sini," ia berkata, "ada keistimewaan tersendiri yang diperlihatkan oleh patung ini dari tiap sisi. Semua sisinya memberikan pemandangan yang luar biasa. Dari kanan sana akan terlihat pahatan otot-otot betis yang sangat bagus, lengan yang kokoh, sebagian punggung yang sungguh perkasa."

Setelah selesai berbicara ia segera berjalan ke arah kanan ke samping patung itu. Kau gerak-gerakkan kepalamu sedikit, bagaikan berusaha mengusir bayangan hitam yang masih saja menghalangi penglihatan.

Suara grojokan kembali terdengar dari perutmu. Kali ini panjang. Tetapi tetap diikuti oleh rasa lapar. Yang semakin menyengat. Sepotong rasa sakit di dalam di ulu hatimu, yang perlahan-lahan turun ke bawah, ke bagian tengah perutmu, untuk selama beberapa detik berdiam di sana. Lalu menghilang dengan sangat perlahan. Kau merasa lemas.

"Lihatlah!" Terdengar suara dari samping kananmu. Kau menengok. Selama sekejap kau hendak mengikutinya. Tiba-tiba seberkas tipis perasaan bingung menyapumu. Suatu perasaan janggal. Aneh. Kau terdiam tidak jadi melangkah. Menunduk menatap tanah, kemudian menengok ke arahnya. Memperhatikannya. Ia sedang berdiri. Tetap dengan penuh perhatian menatap patung Gatot Kaca hitam di depanmu dari samping, tidak sedikitpun melihatmu. Dan ia tersenyum tipis sambil mengangguk-anggukkan kepalanya dengan sangat sekilas.

"Sementara dari belakang sana..." ia berkata sambil mulai berjalan berputar ke arah belakang patung. Tatapannya tak terlepas.

Sepintas suaranya masih terdengar olehmu. Tetapi kau tidak lagi dapat mengerti. Entah ia berbicara terlalu pelan, atau ia sudah semakin jauh. Perasaanmu berdesir-desir. Rasa lapar muncul kembali. Kali ini ia merambat ke dada. Tubuhmu lemas. Suara laki-laki itu sudah tak terdengar lagi. Tak ada yang terdengar. Kau tak peduli pada apapun yang kau dengar. Ia kini di belakang patung di seberang sana. Tetapi kau tak peduli. Tak peduli padanya. Tak peduli pada patung di depanmu. Pada apapun. Lututmu lemas. Pinggangmu juga lemas. Kau tak mengerti apa yang muncul di penglihatanmu. Semuanya tak kau mengerti. Punggungmu lemas.

Kau hampir terjatuh.

Tetapi kau langkahkan kakimu ke depan, ke pinggir kolam berbentuk kotak di bawah sang Gatot Kaca. Kau letakkan badanmu di permukaan lapangan, terduduk di tepi kolam, menyandarkan punggungmu ke dinding-dinding pendeknya. Kakimu kau dorong memanjang. Semuanya terasa lemas. Rasa lapar mengaduk-aduk seisi perutmu. Ubun-ubunmu mendidih.

***

Laki-laki itu muncul kembali darii sebelah kananmu setelah berjalan memutari patung. Ia masih mengarahkan pandangannya ke muka patung Gatot Kaca di belakangmu. Dan ia mengatakan sesuatu. "Luar biasa..." tak terdengar jelas, "... bahkan pada setiap sudut..." Tak kau mengerti. Tak ada yang kau mengerti. Dan kau tak peduli.

Perlahan bayangan gelap muncul di matamu. Bercak-bercak kabur yang bergerak-gerak perlahan, seperti televisi kehilangan sinyal. Kau merasa pusing. Ia tidak melihatmu. Badanmu terasa lemas. Semakin lemas.

Sekarang ia di depanmu hampir berhadap-hadapan. Menatap lurus ke depan atas ke belakangmu, mungkin muka sang patung. Ia berdiri diam berpangku tangan. Tetapi lapangan seperti bergerak. Berputar. Naik dan turun. Terombang-ambing. Ia tersenyum sendirian. Kau gerakkan kepalamu. Lapar. Perutmu terasa sangat tak enak. Seperti mual. Bayangan hitam semakin merajalela.

Tiba-tiba seorang lainnya muncul di sebelah laki-laki tadi. Berkaos hitam. Mereka bersalaman. "Ini dia sang pemahat..." selanjutnya tak terdengar. Kau terlalu pusing. Mereka mengobrol singkat, saling bertanya dan menjawab.

"... masih terkagum-kagum ... luar biasa ... cuacanya pas ... baik ... tempat biasa saja ..." Tidak ada yang terdengar jelas. Mereka tidak menengok padamu. Terbahak-bahak. Mereka belum melihatmu.

Pandanganmu semakin kabur. Kau geser punggungmu dan merebahkan badan di atas lapangan, di pinggir dinding pendek kolam air di kaki patung. Sesuatu yang kasar terasa di kepalamu di pelipis. Panas. Rasa sakit turun lagi. Juga menohok ke dada. Kepalamu berat. Pusing. Semuanya menjadi gelap.

Laki-laki itu dan tamunya mulai membalik badan, berjalan bersampingan sambil mengobrol. Tak ada yang terdengar. Menjauh. Menuju sisi lapangan.

Mereka terbahak-bahak. Semakin gelap.

No comments:

Post a Comment

Popular Nonsensical Matters